Ujian Nasional (UN)
online dilaksanakan serentak pada tanggal 2 April 2018. Kebetulan adik saya baru saja selesai melaksanakan UN ini
yang menjadi salah satu alas an saya membuat tulisan ini. UN Dilaksanakan dalam
tiga sesi, yaitu pada pukul 07.30-09.30, 10.30-12.30, dan 14.00-16.00. UN
online ini merupakan salah satu bentuk terobosan pemerintah.
Sebagian pihak
menyebut UN online ini dengan Ujian Nasional Computer Based Test (UNCBT). Apa
pun istilahnya, ujian nasional online ini sangat berbeda dengan ujian nasional
yang secara konvensional diselenggarakan selama ini dengan menggunakan kertas.
UN berbasis komputer
ini bukanlah hal yang baru, metode ini menimbulkan pro dan kontra. Bagi pihak
yang pro, terutama pihak penyelenggara dalam hal ini pemerintah, memandang
bahwa ujian online sangat menghemat anggaran (less paper) dan distribusi materi
soalnya cepat dan murah, efisien dan dapat mempersempit peluang kebocoran soal.
Sedangkan bagi yang
kontra, bisa datang dari sebagian kalangan sekolah, siswa dan masyarakat
umumnya, memandang ujian online ini sangat rumit dan sulit diterapkan. Karena
belum melakukan persiapan yang matang dan terkesan buru-buru.
Ujian online ini
diselenggarakan oleh pemerintah hanya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap
saja. Sekolah yang belum siap tidak diwajibkan melakukan ujian online, namun
masih diperbolehkan secara konvensional dengan kertas. Kebijakan ini
mengesankan bahwa pemerintah seolah-olah hanya ingin coba-coba. Kebijakan
‘membebaskan’ sekolah juga diberikan dalam hal pelaksanaan kurikulum 2013,
selain ujian online ini. Masyarakat pun bingung atas keperpihakan pemerintah
yang kurang tegas ini.
Masyarakat wajar jika
masih bersikap kontra terhadap ujian online ini. Karena merasa tidak memperoleh
dukungan penuh dari pemerintah terhadap kesiapan sekolah. Jika pemerintah hanya
menanyakan soal kesiapan, tanpa memberikan solusi keberdayaan setiap sekolah,
maka ujian nasional online ini akan selamanya tidak siap. UN online memerlukan
kelengkapan prasyarat yang tidak sederhana. Misalnya, ketersediaan perangkat
computer tiap sekolah, kecukupan daya listrik, kecakapan siswa mengakses soal
secara online, dan lain-lain.
Tidak semua sekolah
memiliki computer yang memadai. Baik jumlah computer maupun support system yang
ada, misalnya kapasitas ram-nya. Tidak semua sekolah memiliki daya listrik yang
cukup, meskipun bisa saja disediakan jenset namun biayanya tentu tidak murah.
Dan tidak semua siswa siap menjawab soal secara online, walaupun sudah
dilakukan try-out, akan tetapi benarkah sudah siap secara mental dan psykis. UN
online juga tidak menutup kemungkinan bocor soalnya, karena hacker dapat saja
menembus dan mencuri data ataupun mengacak-acak datanya.
Dengan melihat
berbagai permasalahan di atas, lantas tidakkah perlu UN online?
Menurut pandangan
saya, UN Online tetap perlu dan harus. Apalagi menghadapi tantangan dunia yang
berkembang sangat cepat. Teknologi online perlu diadopsi untuk kemajuan sistem
pendidikan kita. Hanya saja, kita tidak boleh serampangan mengganti-ganti
seperti metode ujian nasional ini jika memang kita tidak siap. Ada baiknya
pemerintah melakukan penelitian dengan uji coba bagi beberapa sekolah
percontohan di tiap provinsi. Obyek penelitian ini harus terus ditingkatkan
dari tahun ke tahun sambil memperbaiki segala permasalahan yang timbul di
lapangan.
Tahun ini rasanya
sulit jika harus sedikit memaksakan pelaksanaan UN Online tanpa dilakukan
persiapan sebaik mungkin. Apalagi jika tidak ada guru dan mata pelajaran Teknik
Informatika di sekolah. Ini akan menjadi kendala serius bagi sekolah untuk
menyiapkan perangkat hardwaredan softwareyang
berhubungan dengan kegiatan online, karena orang yang kompeten tidak tersedia.
Jadi, Segala bentuk
kebijakan yang di terapkan pemerintah melalui Kemendikbud, wajib didukung oleh
siapa saja yang bersangkutan. Tetapi dalam kenyataanya UNBK ini masih memiliki
kendala yang mebghambat proses kegiatan UNBK itu sendiri. Tentunya pemerintah
harus lebih siap dalam menangani apa saja yang dibutuhkan peserta agar tidak
terlalu diberatkan. Jika pemerintah tidak bisa memfasilitasi sebaiknya UN
kembali dilaksanakan secara manual menggunakan kertas dan tidak dipaksakan
menjalankan UNBK.
#sabtulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar