Dengan cepat suara bising membelah keheningan pagi yang
tenang. “Duarr duar duarrr” suara senapan laras panjang memuntahkan timah panas.
Pasukan musuh telah menyerang ke daerah pertahanan kami, mereka menyerbu gedung kosong yang kami
jadikan sebagai tempat bermalam dengan serentak, tanpa adanya kesiapan, diriku sebagai Sersan satu dan juga pemimpin
dalam divisi ini langsung memerintahkan kepada bawahanku agar membalas
menembak. Pukul setengah empat sudah terjadi baku tembak di kota ini, dalam
keadaan belum siap, kami semua melawan dengan sekuat tenaga kami dengan pasukan
yang tersisa.
Gedung kosong yang kami singgahi
untuk beristirahat mempunyai enam tingkat, dan pasukan kami berada di lantai
paling atas. Di luar sana musuh semakin banyak, dan lebih buruknya lagi sang
memimpin pasukan musuh adalah sahabatku sendiri, amin. Ia adalah sahabatku sejak
kecil.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan diluar, ternyata
suara itu berasal dari ledakan granat pasukan musuh yang mencoba menghancurkan
pintu utama rumah ini. Dengan cepat aku memerintahkan regu sergap untuk menjaga
lantai dasar, dengan sigap regu sergap mulai turun dan berjaga di lantai dasar.
Hal itu terjadi dengan cepat, pasukan musuh dapat menghancurkan pintu utama dan
terjadilah baku tembak di lantai satu. Naasnya, regu sergap milikku tidak dapat
menahan pasukan musuh dan mereka semua tewas.
Lantas pasukan musuh mulai naik menuju
ke lantai dua, disana sudah ada regu enam yang akan menghandang pasukan musuh,
tanpa perlu dikomandoi merekapun saling
baku tembak. Entah mengapa, pasukan musuh bukannya berkurang malah bertambah, layaknya
laron-laron yang berdatangan menuju lampu di saat hari menjelang malam. Pasukan
regu enam kamipun kalah di lantai dua gedung dengan lemparan-lemparan granat.
Tanpa basa-basi musuh naik ke lantai tiga, disana sudah dihadang pasukan regu
empat milikku. tapi nasib mereka sama seperti pasukan di lantai sebelumnya,
kalah dalam baku tembak.
Dan sampai ke lantai empat yang dihadang oleh
pasukan regu satu, dan regu inipun kalah, dan sampailah mereka di lantai lima,
yang dimana pasukan regu utama dan Aku menghadang. Disinilah perang besar
terjadi, pasukan musuh banyak yang tewas, walau begitu pasukan merekapun muncul
terus-menerus sampai kami kewalahan menghadapinya.
Dilain sisi, aku menarik komandan
utama musuh, lebih tepatnya sahabatku sendiri Amin, menuju ke salah satu kamar
di lantai lima. Kami melakukan perundingan, akan tetapi Amin tidak menyetujui
hasil perundingan, karena Ia tidak menyetujuinya kamipun berduel satu lawan
satu untuk menentukan siapa yang dominan.
Awalnya
kami saling baku tembak dengan senapan laras panjang, saat duel laras panjang
diriku terluka dibagian tangan kiri dan Amin dibagian kakinya, kami berduel
sampai amunisi laras panjang kami habis. Setelah habis amunisi kami, kami
berganti menjadi duel menggunakan pistol. Sama seperti tadi, kami berduel
sampai amunisi habis, akan tetapi saatnya duel ini kami tidak ada yang terluka.
Amunisi habis, dan kami berganti berduel dengan menggunakan senjata pisau, kami
saling menyerang dan saling melukai. Dalam duel ini aku terdesak dipojok kamar,
akan tetapi Aku tidak menyerah Aku berusaha sekuat mengkin untuk bertahan. Dengan sigap diriku melompati Amin, lalu aku
menikam dirinya dari belakang dan dirinyapun tewas seketika dihadapanku. Walau
begitu, hatiku merasa sedih karena telah membunuh sahabatku sendiri yang sudah
lama Aku kenal, dengan besar hati Aku meninggalkan mayat sahabatku dan Aku
keluar dari kamar untuk menuntaskan perang ini.
Tanpa kusangka, seluruh pasukan
devisi utama tewas di lantai lima gedung, banyak sekali darah yang bercucuran
diberbagai sudut ruangan. Saat Aku keluar, para pasukan musuh memandangiku
dengan tatapan geram, dan mereka siap untuk menembak ke arah diriku. Mengetahui
hal itu, Akupun lari menuju lantai enam, lantai puncak dalam gedung tersebut.
Aku lari dan mereka membuntuti, mereka semua mengejar diriku dengan membawa
senapan laras panjang dimana diriku hanya berbekal pisau sebagai pertahanan diri.
Sesampainya aku di lantai enam, aku langsung bersembunyi di salah satu kamar
sebelum mereka datang. Saat mereka sampai di lantai enam mereka langsung
mendobrak satu persatu pintu yang ada, dan pada akhirnya pintu kamar tempat aku
bersembunyi telah didobrak, dan diriku ditemukan, tanpa basa-basi mereka
langsung menembakki diriku, seluruh badanku tertembak, kecuali bagian kepalaku.
Aku terluka parah dan dirikupun
jatuh tersungkur dalam keadaan tengkurap. Dengan keadaanku yang seperti itu,
musuhpun langsung meninggalkanku sendirian di kamar. Disana diriku merasakan
kesakitan yang amat sangat luar biasa, dalam batinku berkata “Apakah ini akhir riwayatku?”.
Lama kelamaan mataku mulai terpejam, tubuhku mulai kaku, rasa sakit mulai
berangsur menghilang, nafasku mulai sesak dan jantungku berdetak dengan pelan.
Akupun mulai terdiam dan tak dapat merasakan apa-apa, ruhku seakan-akan mulai di
cabut, aku sudah pasrah akan hal ini.
Tiba-tiba, disuatu tempat yang
sangat gelap, sunyi, dan meyeramkan, aku mendengar suatu hal, dan suara itu
memanggil diriku, “Hamid, bangun Nak, bangun” seperti itulah kedengarannya.
Setelah mendengar hal itu diriku langsung terperanjat dan terbangun, aku
langsung duduk dan kaget dengan badanku telah basah akan keringat. Ibuku berada
disampingku di tepi kasurku,
“Hamid,
ada apa kok kaget seperti itu?” Tanya ibuku,
“Aku
tadi mimpi buruk bu.”Jawabku.
“memangnya
mimpi apa kamu?” Tanya ibu kembali, dan akupun menceritakannya kepada Ibu.
Akhirnya ibuku mengerti dan Ia
keluar dari kamarku dan menyuruhku untuk berwudhu dan shalat shubuh. Akupun
melihat ke jendela, memandang keluar jendela kamarku, dalam hatiku Aku
bersyukur Aku masih dapat melihat kehidupan dan kedamaian setelah aku bangun
tidur, dan Aku bersyukur bahwa kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi.
#sabtulis
#sabtulis

