Sabtu, 28 April 2018

LANTAI ENAM







Dengan cepat suara bising membelah keheningan pagi yang tenang. “Duarr duar duarrr” suara senapan laras panjang memuntahkan timah panas. Pasukan musuh telah menyerang ke daerah pertahanan  kami, mereka menyerbu gedung kosong yang kami jadikan sebagai tempat bermalam dengan serentak, tanpa adanya  kesiapan, diriku sebagai Sersan satu dan juga pemimpin dalam divisi ini langsung memerintahkan kepada bawahanku agar membalas menembak. Pukul setengah empat sudah terjadi baku tembak di kota ini, dalam keadaan belum siap, kami semua melawan dengan sekuat tenaga kami dengan pasukan yang tersisa.

            Gedung kosong yang kami singgahi untuk beristirahat mempunyai enam tingkat, dan pasukan kami berada di lantai paling atas. Di luar sana musuh semakin banyak, dan lebih buruknya lagi sang memimpin pasukan musuh adalah sahabatku sendiri, amin. Ia adalah sahabatku sejak kecil.

            Tiba-tiba terdengar suara ledakan diluar, ternyata suara itu berasal dari ledakan granat pasukan musuh yang mencoba menghancurkan pintu utama rumah ini. Dengan cepat aku memerintahkan regu sergap untuk menjaga lantai dasar, dengan sigap regu sergap mulai turun dan berjaga di lantai dasar. Hal itu terjadi dengan cepat, pasukan musuh dapat menghancurkan pintu utama dan terjadilah baku tembak di lantai satu. Naasnya, regu sergap milikku tidak dapat menahan pasukan musuh dan mereka semua tewas.

           Lantas pasukan musuh mulai naik menuju ke lantai dua, disana sudah ada regu enam yang akan menghandang pasukan musuh, tanpa  perlu dikomandoi merekapun saling baku tembak. Entah mengapa, pasukan musuh bukannya berkurang malah bertambah, layaknya laron-laron yang berdatangan menuju lampu di saat hari menjelang malam. Pasukan regu enam kamipun kalah di lantai dua gedung dengan lemparan-lemparan granat. Tanpa basa-basi musuh naik ke lantai tiga, disana sudah dihadang pasukan regu empat milikku. tapi nasib mereka sama seperti pasukan di lantai sebelumnya, kalah dalam baku tembak.

            Dan sampai ke lantai empat yang dihadang oleh pasukan regu satu, dan regu inipun kalah, dan sampailah mereka di lantai lima, yang dimana pasukan regu utama dan Aku menghadang. Disinilah perang besar terjadi, pasukan musuh banyak yang tewas, walau begitu pasukan merekapun muncul terus-menerus sampai kami kewalahan menghadapinya.

            Dilain sisi, aku menarik komandan utama musuh, lebih tepatnya sahabatku sendiri Amin, menuju ke salah satu kamar di lantai lima. Kami melakukan perundingan, akan tetapi Amin tidak menyetujui hasil perundingan, karena Ia tidak menyetujuinya kamipun berduel satu lawan satu untuk menentukan siapa yang dominan.

             Awalnya kami saling baku tembak dengan senapan laras panjang, saat duel laras panjang diriku terluka dibagian tangan kiri dan Amin dibagian kakinya, kami berduel sampai amunisi laras panjang kami habis. Setelah habis amunisi kami, kami berganti menjadi duel menggunakan pistol. Sama seperti tadi, kami berduel sampai amunisi habis, akan tetapi saatnya duel ini kami tidak ada yang terluka. Amunisi habis, dan kami berganti berduel dengan menggunakan senjata pisau, kami saling menyerang dan saling melukai. Dalam duel ini aku terdesak dipojok kamar, akan tetapi Aku tidak menyerah Aku berusaha sekuat mengkin untuk bertahan.  Dengan sigap diriku melompati Amin, lalu aku menikam dirinya dari belakang dan dirinyapun tewas seketika dihadapanku. Walau begitu, hatiku merasa sedih karena telah membunuh sahabatku sendiri yang sudah lama Aku kenal, dengan besar hati Aku meninggalkan mayat sahabatku dan Aku keluar dari kamar untuk menuntaskan perang ini.

            Tanpa kusangka, seluruh pasukan devisi utama tewas di lantai lima gedung, banyak sekali darah yang bercucuran diberbagai sudut ruangan. Saat Aku keluar, para pasukan musuh memandangiku dengan tatapan geram, dan mereka siap untuk menembak ke arah diriku. Mengetahui hal itu, Akupun lari menuju lantai enam, lantai puncak dalam gedung tersebut. Aku lari dan mereka membuntuti, mereka semua mengejar diriku dengan membawa senapan laras panjang dimana diriku hanya berbekal pisau sebagai pertahanan diri. Sesampainya aku di lantai enam, aku langsung bersembunyi di salah satu kamar sebelum mereka datang. Saat mereka sampai di lantai enam mereka langsung mendobrak satu persatu pintu yang ada, dan pada akhirnya pintu kamar tempat aku bersembunyi telah didobrak, dan diriku ditemukan, tanpa basa-basi mereka langsung menembakki diriku, seluruh badanku tertembak, kecuali bagian kepalaku.

            Aku terluka parah dan dirikupun jatuh tersungkur dalam keadaan tengkurap. Dengan keadaanku yang seperti itu, musuhpun langsung meninggalkanku sendirian di kamar. Disana diriku merasakan kesakitan yang amat sangat luar biasa, dalam batinku berkata “Apakah ini akhir riwayatku?”. Lama kelamaan mataku mulai terpejam, tubuhku mulai kaku, rasa sakit mulai berangsur menghilang, nafasku mulai sesak dan jantungku berdetak dengan pelan. Akupun mulai terdiam dan tak dapat merasakan apa-apa, ruhku seakan-akan mulai di cabut, aku sudah pasrah akan hal ini.

            Tiba-tiba, disuatu tempat yang sangat gelap, sunyi, dan meyeramkan, aku mendengar suatu hal, dan suara itu memanggil diriku, “Hamid, bangun Nak, bangun” seperti itulah kedengarannya. Setelah mendengar hal itu diriku langsung terperanjat dan terbangun, aku langsung duduk dan kaget dengan badanku telah basah akan keringat. Ibuku berada disampingku di tepi kasurku,

“Hamid, ada apa kok kaget seperti itu?” Tanya ibuku,

“Aku tadi mimpi buruk bu.”Jawabku.

“memangnya mimpi apa kamu?” Tanya ibu kembali, dan akupun menceritakannya kepada Ibu.

            Akhirnya ibuku mengerti dan Ia keluar dari kamarku dan menyuruhku untuk berwudhu dan shalat shubuh. Akupun melihat ke jendela, memandang keluar jendela kamarku, dalam hatiku Aku bersyukur Aku masih dapat melihat kehidupan dan kedamaian setelah aku bangun tidur, dan Aku bersyukur bahwa kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi.

#sabtulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar