Sabtu, 24 Maret 2018

KISAH HIDUPKU


KISAH HIDUPKU


Pada masa itu adalah waktu tersulit bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. di saat rezim pemimpin yang terkenal karna KKN-nya, Kalutnya kondisi ekonomi serta krisis moneter yang terjadi, menimbulkan kerusuhan di berbagai daerah di Indonesia. Tak jauh dari salah satu pusat kerusuhan di Jakarta, disekitar daerah komdak, lahirlah seorang anak yang hadir menemani keluarga yang sederhana yang telah menantikannya. Anak yang lahir pada saat itu adalah diriku sendiri, namaku Zeky Ini kisahku

Aku lahir pada  2 september 1998, seperti yang aku telah ceritakan sebelumnya, aku di lahirkan di daerah Jakarta di saat Indonesia sedang dalam keadaan krisis. Nama lengkapku Zeky Pratama Saputra, sudah jelas arti namaku ini karna aku adalah anak pertama. Ayahku adalah seorang wiraniaga dan ibuku adalah ibu rumah tangga. Rumahku dulu adalah tempat yang ramai karna bukan hanya kedua orangtuaku saja yang menemaiku, paman dan bibiku juga tinggal di rumah itu. Aku masi ingat sesekali ketika bibiku pulang dari pasar ia membelikanku kue, aku sangat senang jika bibiku pulang membelikan kue.

Merasakan ramainya rumah tak berlangsung lama , ketika umurku beranjak lima tahun ayahku membeli rumah yang dekat dengan toko dimana ia berdagang, lokasinya di daerah kwitang dekat dengan toko ayahku di daerah senen. Berbeda dengan kondisi rumahku dulu, dirumahku yang baru terasa sangat sepi. Ayah sering berkata waktu aku pindah kerumah baru, aku sering menangis dan meminta ingin pulang kerumah yang lama. Seiring berjalannya waktu aku mulai memiliki teman dan mulai melupakan rumah lamaku.

Ayah ibu memasukanku ke paud ketika umur empat tahun. Setelah memasuki tahun ke dua aku mulai mandiri dengan pergi ke paud tanpa di antar ibuku. Ini karna sebentar lagi aku akan memiliki adik. Aku cukup senang ketika adiku lahir.

Setelah tahun ke dua paud berakhir aku mulai mendaftar di sekolah dasar negri yang dekat dengan rumahku, Yaitu SDN Kenari 01 Pagi, orangtuaku juga memasukanku ke Madrasah yang berjarak sangat dekat dengan rumahku, jadi setelah pulang sekolah beberapa jam kemudian aku mengaji di madrasah. begitu banyak kenangan di awal-awal sekolah dasar yang kulupakan, tetapi aku masi sangat mengingat pengalaman di awal-awal madrasahku. Di madrasah itu memiliki jenjang-jenjang sama seperti di sekolah dasar. aku yang paling muda saat itu karna yang baru saja masuk biasanya sudah kelas dua SD atau lebih, sedangkan aku baru kelas satu waktu itu. Aku bertemu dengan teman-teman yang cukup asik disana. Berbeda dengan sd, di madrasah ini aku lebih banyak bermain disaat jam-jam istirahat seperti bermain bola, bermain klereng, bermain lempar topi dan lain-lain. Bahkan aku pernah meninggalkan kelas hanya untuk bermain bola di Tugu Tani waktu itu, ibuku sampai menanyakan ada rumput apa yang menempel di baju dan celanaku, dan aku panik mencari alasan. Begitulah keseharianku di pengajian karna aku yang paling kecil aku sering kali ikut-ikutan ketika temanku melakukan sesuatu.

Puncaknya ketika kelas tiga madrasah, anak kecil biasanya memiliki jiwa petualang yang sulit dimengerti. Pada hari itu pintu yang menuju tingkat atas terbuka. Jadi salah satu temanku mencoba membuka pintu itu. Ternyata itu adalah pintu menuju atap, kebetulan atap madrasahku berbentuk datar jadi kami mulai bermain disana. Pada saat itu suatu acara di televisi yaitu ninja warrior sedang booming-boomingnya kami sebagai anak kecil sangat mudah tepengaruh dan megikutinya. Kami berlari-larian diatas atap itu yang tenyata cukup luas dan memutar jadi kami berlomba siapa yang bisa memutar dan kembali  ke pintu ini, dan kami pun mulai berlarian.

Dan berikutnya hal yang tidak diduga-duga terjadi. Waktu itu didepan kami ada tembok yang terbuat dari semen, awalnya kami mengurungkan niat karna tembokya cukup tinggi, tetapi salah satu temankun mulai memanjat seperti yang ada di acara televisi, dan berhasil melewatinya. Sontak aku dan temanku yang masi dibelakang mulai berlari mendekati tembok itu. Kami memanjatinya secara bersamaan, tak diduga tembok itu mulai goyah dan jatuh kearah depan. Aku yang panik langsung turun dari tembok dan berlari kebelakang.tetapi salah satu temanku masi berada diatas dan terjatuh bersama tembok itu. Disebelah tembok itu ternyata terdapat tempat yang lebih rapuh yaitu asbes yang sontak ketika tembok itu terjatuh asbes itu hancur dan tembus kelantai bawah. Aku dan temanku berlarian kabur kearah pintu dan ternyata aku yang terkhir sampai dipintu, didepan pintu pak ustad telah menantiku dan menarik bajuku yang berusaha kabur. Aku dan temanku dimarahi dan aku disuruh memanggil orangtuaku untuk menghadap ustad. Aku pulang dan menangis dirumah sembari menyuruh orangtuaku untuk dating ke madrasah itu. Aku merasa lega karna aku tidak di bebani dengan sanksi apapun, yang mendapatkan sanksi paling banyak adalah temanku yang terjatuh sampai bawah yang beruntung ia tidak mendapatkan luka apapun. Sejak saat itu aku mulai berpikir panjang ketika temanku mengajaku dalam melakukan sesuatu.

Begitulah pengalamanku di madrasah yang harusnya menjadi tempat untuk membentuk moral yang baik entah kenapa diriku menjadi liar, mungkin karna pengaruh teman-temanku. Berbeda dengan dimadrasah di sekolah aku adalah anak yang lebih tenang dan terlihat tidak terlalu aktif, mungkin karna aku berteman dengan kutu buku disekolah yang sampai tahun lalu ia masi sering ke rumahku. Hanya saja akhir-akhir ini kabarnya tidak terdengar olehku.

Setiap pulang sekolah biasanya aku bermain dengan temanku, sampai saat rental PS2 mulai di buka di dekat rumahku sepulang sekolah biasanya aku ke rental PS2. Begitulah adiksi pertamaku dengan game dimulai. Yang semakin diperparah ketika aku mendapatkan hadiah PS2 dari ayah. Aku sering menghabiskan waktu sebelum dah sesudah mengaji di madrasah dengan memainkan PS2. Aku masi memiliki adiksi terhadap game sampi saat ini.

Tak terasa waktu terus berjalan. Akhirnya aku kelas enam, aku mulai melirik SMP terdekat dan terbaik. Nilai UN ku terbilang cukup baik dikelas. Aku melirik SMPN 8 karna itu adalah termasuk sekolah favorit, tetapi nasibku kurang beruntung ternyata nilai minimal saat itu naik dan nilai ku tidak mencukupi, akhirnya aku diterima di SMP pilihan ke 2 yaitu SMPN 280. Sahabatku si kutu buku di terima di SMPN 8 jadi semenjak SMP kita tidak sekelas. Di SMP ini aku bertemu dengan teman-teman yang terbilang memiliki jiwa humor yang berlebihan, munkin karna pada saat ini adalah tahap remaja awal. Aku bukanlah termasuk anak yang rajin di kelas, dan nilaiku terbilang kurang baik, ini dikarnakan mata ku yang mulai rabun dikarnakan kebiasaan bermain game di komputer dekat-dekat.

Tetapi pada saat kelas tiga SMP aku mulai sedikit lebih rajin dan orangtuaku memeriksakan mataku ke dokter dan membeli kaca mata. Awal-awlnya aku malu-malu memakai kaca mata, dan hanya menggunakannya pada saat belajar saja. Dan ternyata hasil belajarku membuahkan hasil. Kali ini nilaiku memiliki rata-rata lebih besar daripada SD. Tetapi sayang ketika pendaftaran aku salah memasang strategi yang baik. Aku mendaftarkan tiga sma favorit pada saat itu, dua dari SMA itu berjarak dekat dan terbilang cukup bagus, dan yang terakhir berjarak sekitar sepuluh kilometer dari rumahku. Aku tidak sadar pilihan ke-tiga ku itu berjarak sangat jauh karna terburu-buru dalam pendaftaran. Dan ternyata aku diterima di pilihan ke-tiga yang berjarak sangat jauh.

Kehidupan SMA ku terasa lebih tenang dibandingkan pada saat SMP. Tempatnya jauh dari jalan. SMA ini adalah SMAN 36. Walaupun melelahkan karna jaraknya yang jauh namun begitu banyak kenangan yang tercipta di SMA ini. Di SMA ku terdapat dua jurusan yang bisa kuambil, yaitu IPA dan IPS. Awalnya aku memilih jurusan IPA disaat ujian pemisahan jurusan di mulai, sayangnya aku di tempatkan di kelas IPS. Awalnya aku kurang puas dengan ditempatkannya diriku di kelas IPS, seminggu setelah penentuan kelas ada test ke dua untuk pembagian kelas bagi yang kurang puas dengan jurusan. tetapi setelah seminggu di kelas aku mengurungkan niatku setelah berkenalan dengan teman-teman sekelas.

Aku tak pernah menyesali keputusanku memasuki jurusan IPS. Menurutku IPS adalah ilmu yang lebih realistis dimana hal yang baik belum tentu baik begitupun hal yang buruk tidak seperti ilmu pasti seperti yang di ajarkan di IPA. Bahkan guru sejarahku terkadang mengajari pelajaran sejarah menurut versi dia karna menurutnya sejarah itu tidaklah murni,ia berkata sejarah itu ditulis oleh pemenang, guru matematikaku juga pernah sedikit menyindir dengan candaan, menurutnya jurusan IPS ini adalah jurusan yang paling banyak masuk neraka karna seperti pengacara membela yang salah dan pemimpin yang tidak jujur dan manis di bibir saja.  Banyak dari teman-temanku memang sudah niat masuk jurusan ini, mereka pandai berbicara di depan kelas yang entah kenapa aku ikut terbawa seperti mereka, walaupun sedikit malu-malu.

                Ketika aku di kelas tiga guru Bimbingan Korselingku memberikan tugas tentang jurusan dan universitas apa aku ingin ku ambil nanti. Karna ini hanya sekedar tugas aku membuat tulisan tentang keinginanku masuk jurusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia, tetapi guruku melarang dan menyuruhku mengambil jurusan di lingkup IPS, guruku berkata aku harus memilih jurusan di lingkup IPS karna dasarku adalah IPS. Akhirnya aku menuliskan keingginanku untuk masuk jurusan Kriminologi Di Universitas Yang sama, karna niatku yang ingin membasmi para oknum-oknum yang menghancurkan negri ini.

                Tak terasa UN SMA ku sudah selesai dan aku menerima nilaiku. Nilaiku cukup baik dibandingan teman sekelasku namun aku tak merasa lega karna masi ada ujian masuk di perguruan tinggi. Aku telah mencoba berbagai jalur peneriman Universitas Indonesia, namun taka da satupun yang berhasil. Akhirnya aku mencoba ujian mandiri di UNJ dan Universitas Gunadarma. Beruntung aku berhasil Lolos kedua universitas tersebut dimana UNJ di jurusan psikologi dan Universitas gunadarma di jurusan Sistem Informasi., dan pada akhirnya aku memilih Gunadarma karna jurusan yang memang hobiku. Tertapi entah kenapa disisi lain aku cukup menyesal tidak mengambil jurusan psikologi, rasanya seperti ingin mengambil kedua jurusan ini.

                Dari kisa hidup yang aku ceritakan secara singkat ini aku menyadari bahwa aku adalah orang yang mudah dipengaruhi, dan terkadang merasakan penyesalan berlebihan seperti kejadian tembok ambruk di masjid dan salah memilih sekolah SMA yang ternyata terelalu jauh. Pada dasarnya apapun yang kita hadapi semuanya akan mengalir dengan cepat tanpa harus disesali, segala sesuatu pasti ada hikmahnya untuk menjadikan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik

                

#sabtulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar