KISAH HIDUPKU
Pada masa itu
adalah waktu tersulit bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. di saat
rezim pemimpin yang terkenal karna KKN-nya, Kalutnya kondisi ekonomi serta
krisis moneter yang terjadi, menimbulkan kerusuhan di berbagai daerah di
Indonesia. Tak jauh dari salah satu pusat kerusuhan di Jakarta, disekitar
daerah komdak, lahirlah seorang anak yang hadir menemani keluarga yang
sederhana yang telah menantikannya. Anak yang lahir pada saat itu adalah diriku
sendiri, namaku Zeky Ini kisahku
Aku lahir pada
2 september 1998, seperti yang aku telah
ceritakan sebelumnya, aku di lahirkan di daerah Jakarta di saat Indonesia sedang
dalam keadaan krisis. Nama lengkapku Zeky Pratama Saputra, sudah jelas arti namaku
ini karna aku adalah anak pertama. Ayahku adalah seorang wiraniaga dan ibuku
adalah ibu rumah tangga. Rumahku dulu adalah tempat yang ramai karna bukan
hanya kedua orangtuaku saja yang menemaiku, paman dan bibiku juga tinggal di
rumah itu. Aku masi ingat sesekali ketika bibiku pulang dari pasar ia
membelikanku kue, aku sangat senang jika bibiku pulang membelikan kue.
Merasakan
ramainya rumah tak berlangsung lama , ketika umurku beranjak lima tahun ayahku
membeli rumah yang dekat dengan toko dimana ia berdagang, lokasinya di daerah
kwitang dekat dengan toko ayahku di daerah senen. Berbeda dengan kondisi
rumahku dulu, dirumahku yang baru terasa sangat sepi. Ayah sering berkata waktu
aku pindah kerumah baru, aku sering menangis dan meminta ingin pulang kerumah
yang lama. Seiring berjalannya waktu aku mulai memiliki teman dan mulai
melupakan rumah lamaku.
Ayah ibu
memasukanku ke paud ketika umur empat tahun. Setelah memasuki tahun ke dua aku
mulai mandiri dengan pergi ke paud
tanpa di antar ibuku. Ini karna sebentar lagi aku akan memiliki adik. Aku cukup
senang ketika adiku lahir.
Setelah tahun
ke dua paud berakhir aku mulai mendaftar di sekolah dasar negri yang dekat
dengan rumahku, Yaitu SDN Kenari 01 Pagi, orangtuaku juga memasukanku ke
Madrasah yang berjarak sangat dekat dengan rumahku, jadi setelah pulang sekolah
beberapa jam kemudian aku mengaji di madrasah. begitu banyak kenangan di
awal-awal sekolah dasar yang kulupakan, tetapi aku masi sangat mengingat pengalaman
di awal-awal madrasahku. Di madrasah itu memiliki jenjang-jenjang sama seperti
di sekolah dasar. aku yang paling muda saat itu karna yang baru saja masuk
biasanya sudah kelas dua SD atau lebih, sedangkan aku baru kelas satu waktu
itu. Aku bertemu dengan teman-teman yang cukup asik disana. Berbeda dengan sd,
di madrasah ini aku lebih banyak bermain disaat jam-jam istirahat seperti
bermain bola, bermain klereng, bermain lempar topi dan lain-lain. Bahkan aku pernah
meninggalkan kelas hanya untuk bermain bola di Tugu Tani waktu itu, ibuku
sampai menanyakan ada rumput apa yang menempel di baju dan celanaku, dan aku panik
mencari alasan. Begitulah keseharianku di pengajian karna aku yang paling kecil
aku sering kali ikut-ikutan ketika temanku melakukan sesuatu.
Puncaknya
ketika kelas tiga madrasah, anak kecil biasanya memiliki jiwa petualang yang sulit
dimengerti. Pada hari itu pintu yang menuju tingkat atas terbuka. Jadi salah
satu temanku mencoba membuka pintu itu. Ternyata itu adalah pintu menuju atap,
kebetulan atap madrasahku berbentuk datar jadi kami mulai bermain disana. Pada saat
itu suatu acara di televisi yaitu ninja
warrior sedang booming-boomingnya kami
sebagai anak kecil sangat mudah tepengaruh dan megikutinya. Kami berlari-larian
diatas atap itu yang tenyata cukup luas dan memutar jadi kami berlomba siapa
yang bisa memutar dan kembali ke pintu ini,
dan kami pun mulai berlarian.
Dan berikutnya
hal yang tidak diduga-duga terjadi. Waktu itu didepan kami ada tembok yang
terbuat dari semen, awalnya kami mengurungkan niat karna tembokya cukup tinggi,
tetapi salah satu temankun mulai memanjat seperti yang ada di acara televisi,
dan berhasil melewatinya. Sontak aku dan temanku yang masi dibelakang mulai
berlari mendekati tembok itu. Kami memanjatinya secara bersamaan, tak diduga
tembok itu mulai goyah dan jatuh kearah depan. Aku yang panik langsung turun
dari tembok dan berlari kebelakang.tetapi salah satu temanku masi berada diatas
dan terjatuh bersama tembok itu. Disebelah tembok itu ternyata terdapat tempat
yang lebih rapuh yaitu asbes yang sontak ketika tembok itu terjatuh asbes itu
hancur dan tembus kelantai bawah. Aku dan temanku berlarian kabur kearah pintu
dan ternyata aku yang terkhir sampai dipintu, didepan pintu pak ustad telah
menantiku dan menarik bajuku yang berusaha kabur. Aku dan temanku dimarahi dan
aku disuruh memanggil orangtuaku untuk menghadap ustad. Aku pulang dan menangis
dirumah sembari menyuruh orangtuaku untuk dating ke madrasah itu. Aku merasa
lega karna aku tidak di bebani dengan sanksi apapun, yang mendapatkan sanksi
paling banyak adalah temanku yang terjatuh sampai bawah yang beruntung ia tidak
mendapatkan luka apapun. Sejak saat itu aku mulai berpikir panjang ketika
temanku mengajaku dalam melakukan sesuatu.
Begitulah
pengalamanku di madrasah yang harusnya menjadi tempat untuk membentuk moral
yang baik entah kenapa diriku menjadi liar, mungkin karna pengaruh
teman-temanku. Berbeda dengan dimadrasah di sekolah aku adalah anak yang lebih
tenang dan terlihat tidak terlalu aktif, mungkin karna aku berteman dengan kutu
buku disekolah yang sampai tahun lalu ia masi sering ke rumahku. Hanya saja
akhir-akhir ini kabarnya tidak terdengar olehku.
Setiap pulang
sekolah biasanya aku bermain dengan temanku, sampai saat rental PS2 mulai di
buka di dekat rumahku sepulang sekolah biasanya aku ke rental PS2. Begitulah
adiksi pertamaku dengan game dimulai. Yang semakin diperparah ketika aku
mendapatkan hadiah PS2 dari ayah. Aku sering menghabiskan waktu sebelum dah
sesudah mengaji di madrasah dengan memainkan PS2. Aku masi memiliki adiksi
terhadap game sampi saat ini.
Tak terasa
waktu terus berjalan. Akhirnya aku kelas enam, aku mulai melirik SMP terdekat
dan terbaik. Nilai UN ku terbilang cukup baik dikelas. Aku melirik SMPN 8 karna
itu adalah termasuk sekolah favorit, tetapi nasibku kurang beruntung ternyata
nilai minimal saat itu naik dan nilai ku tidak mencukupi, akhirnya aku diterima
di SMP pilihan ke 2 yaitu SMPN 280. Sahabatku si kutu buku di terima di SMPN 8
jadi semenjak SMP kita tidak sekelas. Di SMP ini aku bertemu dengan teman-teman
yang terbilang memiliki jiwa humor yang berlebihan, munkin karna pada saat ini
adalah tahap remaja awal. Aku bukanlah termasuk anak yang rajin di kelas, dan
nilaiku terbilang kurang baik, ini dikarnakan mata ku yang mulai rabun
dikarnakan kebiasaan bermain game di komputer dekat-dekat.
Tetapi pada
saat kelas tiga SMP aku mulai sedikit lebih rajin dan orangtuaku memeriksakan
mataku ke dokter dan membeli kaca mata. Awal-awlnya aku malu-malu memakai kaca
mata, dan hanya menggunakannya pada saat belajar saja. Dan ternyata hasil
belajarku membuahkan hasil. Kali ini nilaiku memiliki rata-rata lebih besar
daripada SD. Tetapi sayang ketika pendaftaran aku salah memasang strategi yang
baik. Aku mendaftarkan tiga sma favorit pada saat itu, dua dari SMA itu
berjarak dekat dan terbilang cukup bagus, dan yang terakhir berjarak sekitar
sepuluh kilometer dari rumahku. Aku tidak sadar pilihan ke-tiga ku itu berjarak
sangat jauh karna terburu-buru dalam pendaftaran. Dan ternyata aku diterima di
pilihan ke-tiga yang berjarak sangat jauh.
Kehidupan SMA
ku terasa lebih tenang dibandingkan pada saat SMP. Tempatnya jauh dari jalan.
SMA ini adalah SMAN 36. Walaupun melelahkan karna jaraknya yang jauh namun
begitu banyak kenangan yang tercipta di SMA ini. Di SMA ku terdapat dua jurusan
yang bisa kuambil, yaitu IPA dan IPS. Awalnya aku memilih jurusan IPA disaat
ujian pemisahan jurusan di mulai, sayangnya aku di tempatkan di kelas IPS.
Awalnya aku kurang puas dengan ditempatkannya diriku di kelas IPS, seminggu
setelah penentuan kelas ada test ke dua untuk pembagian kelas bagi yang kurang
puas dengan jurusan. tetapi setelah seminggu di kelas aku mengurungkan niatku
setelah berkenalan dengan teman-teman sekelas.
Aku tak pernah
menyesali keputusanku memasuki jurusan IPS. Menurutku IPS adalah ilmu yang
lebih realistis dimana hal yang baik belum tentu baik begitupun hal yang buruk
tidak seperti ilmu pasti seperti yang di ajarkan di IPA. Bahkan guru sejarahku terkadang
mengajari pelajaran sejarah menurut versi dia karna menurutnya sejarah itu
tidaklah murni,ia berkata sejarah itu ditulis oleh pemenang, guru matematikaku
juga pernah sedikit menyindir dengan candaan, menurutnya jurusan IPS ini adalah
jurusan yang paling banyak masuk neraka karna seperti pengacara membela yang
salah dan pemimpin yang tidak jujur dan manis di bibir saja. Banyak dari teman-temanku memang sudah niat
masuk jurusan ini, mereka pandai berbicara di depan kelas yang entah kenapa aku
ikut terbawa seperti mereka, walaupun sedikit malu-malu.
Ketika
aku di kelas tiga guru Bimbingan Korselingku memberikan tugas tentang jurusan
dan universitas apa aku ingin ku ambil nanti. Karna ini hanya sekedar tugas aku
membuat tulisan tentang keinginanku masuk jurusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia,
tetapi guruku melarang dan menyuruhku mengambil jurusan di lingkup IPS, guruku
berkata aku harus memilih jurusan di lingkup IPS karna dasarku adalah IPS.
Akhirnya aku menuliskan keingginanku untuk masuk jurusan Kriminologi Di
Universitas Yang sama, karna niatku yang ingin membasmi para oknum-oknum yang
menghancurkan negri ini.
Tak
terasa UN SMA ku sudah selesai dan aku menerima nilaiku. Nilaiku cukup baik
dibandingan teman sekelasku namun aku tak merasa lega karna masi ada ujian
masuk di perguruan tinggi. Aku telah mencoba berbagai jalur peneriman
Universitas Indonesia, namun taka da satupun yang berhasil. Akhirnya aku
mencoba ujian mandiri di UNJ dan Universitas Gunadarma. Beruntung aku berhasil
Lolos kedua universitas tersebut dimana UNJ di jurusan psikologi dan Universitas
gunadarma di jurusan Sistem Informasi., dan pada akhirnya aku memilih Gunadarma
karna jurusan yang memang hobiku. Tertapi entah kenapa disisi lain aku cukup
menyesal tidak mengambil jurusan psikologi, rasanya seperti ingin mengambil
kedua jurusan ini.
Dari
kisa hidup yang aku ceritakan secara singkat ini aku menyadari bahwa aku adalah
orang yang mudah dipengaruhi, dan terkadang merasakan penyesalan berlebihan
seperti kejadian tembok ambruk di masjid dan salah memilih sekolah SMA yang
ternyata terelalu jauh. Pada dasarnya apapun yang kita hadapi semuanya akan
mengalir dengan cepat tanpa harus disesali, segala sesuatu pasti ada hikmahnya
untuk menjadikan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik
#sabtulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar