Kamis, 15 Maret 2018

Renungan Jum'at

Pada suatu hari, di pagi buta yang terasa dingin, ditemani samarnya matahari pagi. dinginnya pagi tak pernah menyurutkan niat sang waktu dalam melaksanakan kewajibannya. Beberapa menit lagi bel akan nyaring berbunyi menandakan kelas akan dimulai, satu persatu para murid berdatangan ke tempat menimba ilmu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sekolah.  Seperti sekolah lainnya gerbang SMP Tunas Bangsa mulai ditutup ketika bel sudah berbunyi, dan pada saat yang bersamaan salah satu siswa sekolah tersebut, sebut saja Hamid baru saja keluar gerbang pintu rumahnya dan berlari dengan tergesa – gesa menuju tempat biasanya ia menaiki angkutan umum.  beruntung tanpa menunggu, angkutan umum lewat di tempat Hamid biasa menaiki angkutan umum. jalan pada saat itu tidak terlalu macet sehingga Hamid merasa sedikit lega, setibanya di gerbang, ia mulai panik, keringat Hamid mulai bercucuran disaat ia melihat guru yang terlihat gusar yang mungkin bertanya-tanya kenapa masi saja ada yang datang terlambat didalam benaknya.Hamid pun diberi hukuman dan baru deperbolehkan masuk setelah jam berikutnya. Begitulah hari Hamid dimulai dengan perilaku yang kurang baik.

Tak hanya kebiasaan buruk telat masuk sekolah, nilai Hamid juga terbilang buruk karena banyak pelajaran yang nilainya tidak tuntas, tentu saja Karena kesahariannya yang malas. Puncaknya ketika kenaikan  kelas dimana pelajaran matematika bahkan tidak sampai angka 3, Sayangnya SMP Tunas Bangsa cukupp berat dalam memberikan standar kepada murid-muridnya, angka 3 tentu tidak mencukupi standar nilai yang ada. Nilai yang bisa di terima yaitu dikisaran angka 7. Ketika pengambilan rapor Hamid diceramahi habis -  habisan oleh guru didepan orangtuanya. Sontak dalam benak Hamid ada rasa ingin berubah kearah yang lebih baik, Hamid mulai datang ke sekolah tepat waktu, dia mulai sedikit demi sedikit serius dalam mempelajari pelajaran disekolah, begitu pula dirumah dia rajin membaca buku pelajaran. Hal ini tentu beralasan, kini Hamid sudah kelas 3 dan akan melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA, Setiap siswa pasti ingin melajutkan sekolah ke SMA favorit begitu pula Hamid, ia tak mau ketinggalan ia ingin masuk ke SMA favorit dan membahagiakan kedua orangtuanya.

Setelah semester 1 berlalu tibalah saat yang ditunggu tunggu oleh Hamid yaitu pembagian rapor. Hari itu adalah hari libur semester dimana banyak orang melakukan liburan. Tetapi Hamid tidak bisa tenang karena ia menunggu kedatangan ibundanya yang sedang mengambil rapor. Jantung Hamid berdegub kencang sambil menunggu dan terdiam, dibenaknya hanya memikirkan apakah yang ia kerjakan membuahkan hasil. Didalam keheningannya ia terkejut mendengar suara pintu terbuka, jantung Hamid berdegub semakin kencang. Kemudian ibundanya memberikan selembar kertas rapor sementara yang berisikan nilainya. Alangkah senangnya Hamid melihat nilainya cukup baik, kecuali satu pelajaran yaitu matematika, dia tetap mendapat kurang memuaskan masi dikisaran angka 5, sedangkan standarnya adalah 7. Tetapi Hamid merasa cukup puas karena nilainya tidak terlalu buruk.

Tidak terasa 2  bulan lagi ujian nasional atau disingkat UN akan diselengarakan, Pada saat itu UN masi menjadi patokan untuk diterima di SMA sehingga UN sangat penting untuk bisa memasuki SMA impian. Soal yang disajikan dalam UN adalah soal dari kelas 1 sampai 3 dimana pada saat kelas 1 dan 2 Hamid jarang sekali membuka buku pelajaran. Dalam diri Hamid dipenuhi keraguan. Hamid ragu apakah ia bisa mendapatkan hasil UN yang baik untuk masuk ke SMA yang ia inginkan. Ia sudah mulai putus harapan. Rasa pesimis menghantuinya setiap saat, di satu sisi ia ingin mendapatkan nilai yang terbaik di sisi lain ia merasa mustahil untuk mewujudkannya
Sebagai seorang muslim Hamid selalu mengikuti sholat jum’at, Hamid mendengar Khotib yang yang sedang berkhutbah, sang khotib dalam ceramahnya mengatakan “ALLAH swt. Berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:”Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:”Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushshilat;30) sontak Hamid temotivasi untuk percaya apa  yang ia kerjakan dengan baik pasti Allah akan memberikan yang terbaik juga,


Hari demi hari Hamid menghabiskan waktu dengan belajar, Ia tak pernah meninggalkan sholat 5 waktu. Terkadang ia juga melakukan sholat tahajud dimalam hari, ia meminta agar dimudahkan dalam proses belajar. Dan tibalah saatnya UN diselengarakan, Hamid merasa sangat sesak sebelum menghadapi soal-soal, sebelum mengerjakan ia memanjatkan doa kepada Allah Swt. Agar diberi ketenangan dan kemudahan dalama menghadapi soal-soal. Tak terasa UN sudah selesai dan sebulan kemudian Hamid menerima hasIl UN. Sebelum membuka hasil UN tak lupa ia memanjatkan doa kepada Allah Swt. Alangkah terkejutntya Hamid melihat hasil dati UN nya mendapat rata-rata 8 lebih. Dan iapun melanjutkan sekolah ke SMA favorit yang diinginkannya. Hamid kini menjadi sosok yang lebih relijius dan rajin. Ini adalah bentuk kecintaannya kepada Allah Swt. Karena disaat dia sedang ragu ragu diberikan keteguhan oleh Allah Swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar