Renungan Jum'at
Pada suatu hari, di pagi buta yang terasa dingin, ditemani
samarnya matahari pagi. dinginnya pagi tak pernah menyurutkan niat sang waktu
dalam melaksanakan kewajibannya. Beberapa menit lagi bel akan nyaring berbunyi
menandakan kelas akan dimulai, satu persatu para murid berdatangan ke tempat
menimba ilmu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sekolah. Seperti sekolah lainnya gerbang SMP Tunas
Bangsa mulai ditutup ketika bel sudah berbunyi, dan pada saat yang bersamaan
salah satu siswa sekolah tersebut, sebut saja Hamid baru saja keluar gerbang
pintu rumahnya dan berlari dengan tergesa – gesa menuju tempat biasanya ia
menaiki angkutan umum. beruntung tanpa
menunggu, angkutan umum lewat di tempat Hamid biasa menaiki angkutan umum.
jalan pada saat itu tidak terlalu macet sehingga Hamid merasa sedikit lega, setibanya
di gerbang, ia mulai panik, keringat Hamid mulai bercucuran disaat ia melihat guru
yang terlihat gusar yang mungkin bertanya-tanya kenapa masi saja ada yang
datang terlambat didalam benaknya.Hamid pun diberi hukuman dan baru
deperbolehkan masuk setelah jam berikutnya. Begitulah hari Hamid dimulai dengan
perilaku yang kurang baik.
Tak hanya kebiasaan buruk telat masuk sekolah, nilai Hamid juga
terbilang buruk karena banyak pelajaran yang nilainya tidak tuntas, tentu saja
Karena kesahariannya yang malas. Puncaknya ketika kenaikan kelas dimana pelajaran matematika bahkan
tidak sampai angka 3, Sayangnya SMP Tunas Bangsa cukupp berat dalam memberikan
standar kepada murid-muridnya, angka 3 tentu tidak mencukupi standar nilai yang
ada. Nilai yang bisa di terima yaitu dikisaran angka 7. Ketika pengambilan
rapor Hamid diceramahi habis - habisan
oleh guru didepan orangtuanya. Sontak dalam benak Hamid ada rasa ingin berubah
kearah yang lebih baik, Hamid mulai datang ke sekolah tepat waktu, dia mulai
sedikit demi sedikit serius dalam mempelajari pelajaran disekolah, begitu pula
dirumah dia rajin membaca buku pelajaran. Hal ini tentu beralasan, kini Hamid sudah
kelas 3 dan akan melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA, Setiap siswa pasti
ingin melajutkan sekolah ke SMA favorit begitu pula Hamid, ia tak mau
ketinggalan ia ingin masuk ke SMA favorit dan membahagiakan kedua orangtuanya.
Setelah semester 1 berlalu tibalah saat yang ditunggu
tunggu oleh Hamid yaitu pembagian rapor. Hari itu adalah hari libur semester
dimana banyak orang melakukan liburan. Tetapi Hamid tidak bisa tenang karena ia
menunggu kedatangan ibundanya yang sedang mengambil rapor. Jantung Hamid berdegub
kencang sambil menunggu dan terdiam, dibenaknya hanya memikirkan apakah yang ia
kerjakan membuahkan hasil. Didalam keheningannya ia terkejut mendengar suara
pintu terbuka, jantung Hamid berdegub semakin kencang. Kemudian ibundanya
memberikan selembar kertas rapor sementara yang berisikan nilainya. Alangkah senangnya
Hamid melihat nilainya cukup baik, kecuali satu pelajaran yaitu matematika, dia
tetap mendapat kurang memuaskan masi dikisaran angka 5, sedangkan standarnya
adalah 7. Tetapi Hamid merasa cukup puas karena nilainya tidak terlalu buruk.
Tidak terasa 2 bulan
lagi ujian nasional atau disingkat UN akan diselengarakan, Pada saat itu UN
masi menjadi patokan untuk diterima di SMA sehingga UN sangat penting untuk bisa
memasuki SMA impian. Soal yang disajikan dalam UN adalah soal dari kelas 1
sampai 3 dimana pada saat kelas 1 dan 2 Hamid jarang sekali membuka buku
pelajaran. Dalam diri Hamid dipenuhi keraguan. Hamid ragu apakah ia bisa
mendapatkan hasil UN yang baik untuk masuk ke SMA yang ia inginkan. Ia sudah
mulai putus harapan. Rasa pesimis menghantuinya setiap saat, di satu sisi ia
ingin mendapatkan nilai yang terbaik di sisi lain ia merasa mustahil untuk
mewujudkannya
Sebagai seorang muslim Hamid selalu mengikuti sholat
jum’at, Hamid mendengar Khotib yang yang sedang berkhutbah, sang khotib dalam
ceramahnya mengatakan “ALLAH swt. Berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan:”Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:”Janganlah
kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan
jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushshilat;30) sontak Hamid temotivasi
untuk percaya apa yang ia kerjakan
dengan baik pasti Allah akan memberikan yang terbaik juga,
Hari demi hari Hamid menghabiskan waktu dengan belajar, Ia
tak pernah meninggalkan sholat 5 waktu. Terkadang ia juga melakukan sholat
tahajud dimalam hari, ia meminta agar dimudahkan dalam proses belajar. Dan
tibalah saatnya UN diselengarakan, Hamid merasa sangat sesak sebelum menghadapi
soal-soal, sebelum mengerjakan ia memanjatkan doa kepada Allah Swt. Agar diberi
ketenangan dan kemudahan dalama menghadapi soal-soal. Tak terasa UN sudah
selesai dan sebulan kemudian Hamid menerima hasIl UN. Sebelum membuka hasil UN
tak lupa ia memanjatkan doa kepada Allah Swt. Alangkah terkejutntya Hamid melihat
hasil dati UN nya mendapat rata-rata 8 lebih. Dan iapun melanjutkan sekolah ke
SMA favorit yang diinginkannya. Hamid kini menjadi sosok yang lebih relijius
dan rajin. Ini adalah bentuk kecintaannya kepada Allah Swt. Karena disaat dia
sedang ragu ragu diberikan keteguhan oleh Allah Swt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar