Bujukan Maut
Damainya sore hari menenangkan sukma. Sunyi senyap, begitulah yang bisa digambarkan dari keadaan Sma Nusajaya. Hal ini beralasan karna uts baru saja dilaksanakan dan tentunya seluruh siswa diminta pulang kerumah masing-masing.
Perkenalkan namaku Hamid, aku adalah murid kelas 11 di Sma Nusajaya. seusai uts terakhir dilaksanakan, aku bersama kedua teman disuruh berkumpul untuk mendapat pembinaan guna persiapan menghadapi kejuaraan karate tingkat DKI Jakarta. Awalnya aku malas untuk mengikuti kejuaraan ini, tapi entah kenapa guru karate kami yang bernama sensei Adi berhasil membujuk kami ber tiga mengikuti kejuaraan ini.
Rasanya agak sedikit menyebalkan, padahal sudah waktunya pulang, tapi kami masih di sekolah. Apalagi saat itu cuaca dingin dengan hujan rintik-rintik. Kami langsung pergi ke kelas yang ditunjuk oleh guru karate kami. Ketika pembinaan dimulai Kami mendegarkan penjelasan sensei Adi. Tiba-tiba ia keluar untuk mengambil sesuatu.
Beberapa saat kemudian sensei Adi masuk ke kelas kembali. Aku terheran-heran disaat melihat sensei kami. Ia tampak kedinginan. Ia kemudian menyuruhku untuk menutup pintu agar ruangan kelas tidak terlalu dingin.
Sore itu begitu mencekam. Sampai pada suatu waktu terdengar suara ketukan dari jendela yang membuat aku merinding.
“Sei, ada yang mengetuk-ngetuk jendela,” celetuku lembut.
“Tidak ada apa-apa. Aku tidak mendengarnya,” bantah Sensei.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan lagi di jendela, kali ini lebih keras.
“Sei?, kayaknya saya gak salah dengar deh ada yang mengetuk-ngetuk jendela,” kataku.
“Iya, Sensei dengar. Coba Sensei periksa,” kata Sensei.
Akhirnya Sensei Adi menuju jendela kemudian membuka tirai yang menutupi jendela. Setelah itu, Sensei Adi kembali ke tempat duduk.
Tak berapa lama kemudian, ada yang seolah-olah mencoba membuka pintu. Tapi, karena pintu sudah dikunci, pintu itu tidak terbuka.
“Sei, sepertinya ada orang yang mau masuk,” kataku.
“Coba kamu buka,” kata Sensei.
Dengan ragu-ragu aku mencoba membuka pintu. Hobiku yang gemar membaca cerita horor membuatku berpikiran yang aneh-aneh. Jangan-jangan begitu pintu aku buka, yang muncul malah hantu.
Aku buka kunci pintu lalu kubuka pintu perlahan-lahan. Betapa kagetnya ketika yang aku lihat adalah Sensei Adi. Terang saja aku langsung menutup pintu dan lari menuju ke tempat duduk.
“Ada apa?” tanya Sensei Adi.
“Tttt.. tadi ada sosok seperti Sensei,” jawabku terbata-bata.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar kelas.
“Anak-anak, keluar dari kelas itu. Itu bukan Sensei. Sensei lagi ada di luar sekarang.”
Mendengar suara teriakan itu aku jadi merinding di dalam kelas ini. Aku jadi tidak berani melihat sosok apa yang sedang duduk di meja guru. Aku bersama kedua teman berlari keluar dari dalam kelas.
“Ayo sini ikut Sensei. Kalian akan aman.”
Sosok yang mirip Sensei Adi tadi keluar kelas dan berteriak kepada kami.
“Anak-anak, jangan percaya sama dia. Coba lihat kakinya.”
Aku tidak memedulikan teriakannya. Aku berpikir itu pasti jebakan agar kami kembali ke sana. Setelah berhenti di suatu tempat di sekolah, aku merasa Sensei Adi terlihat lebih tinggi. Aku mulai mengatur nafas. Aku rasa aku sudah merasa jernih dalam berpikir. Tiba-tiba aku baru menyadari sesuatu.
#sabtulis
#narasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar