KATANYA
JADI KE SINGAPURA?
Hamid baru saja menerima rapor semesternya, minggu depan
adalah liburan semester. Ayah berjanji mengajak keluarga berlibur di desa. Semua
anggota keluarga merasa senang. Karena telah lama tidak mengunjungi sanak
saudara di desa. Semua gembira, kecuali hamid terlihat muram.
“Mau
apa sih liburan di desa. Enakan juga ke Singapura.” protes Hamid karena
keinginannya untuk melihat patung singa kembali tertunda.
“Tabungan
Ayah belum cukup nak, mungkin tahun depan baru terkumpul.” Saut Ayah lembut..
“Ada
apa sih di desa? Paling-paling cuma ada kambing dan sapi.” Hamid masih
kelihatan kecewa.
Hamid berkata seperti itu karena dia belum pernah pergi ke
desa.tetapi anggota keluarga yang lain berbeda, mereka sangat rindu pada alam
pedesaan yang indah dan damai. mereka rindu pada gunung dan rindu pada air
terjun dekat rumah Kakek. Rindu pada hamparan padi yang menguning. Pada
burung-burung pipit yang terbang menukik berebut tanaman padi. Rindu pohon
jambu di belakang rumah, rindu pada sungai yang jernih mengalir, yang karena
saking jernihnya kita bisa melihat batu-batu di dasarnya. Dan tentu saja meraka
tak tahan dengan kerinduan pada udara pedesaan yang bersih dan sejuk. Sebentar
lagi semua kerinduan itu akan dapat terobati.
Akhirnya
tibalah juga hari yang dinanti-nanti tersebut. Hamid dan keluarga menaiki
kereta antar provinsi menuju rumah kakek
“Kamu
pasti bakal rindu dengan rumah kakek kalo sudah pulang dari sana.” Bisik ayah
padaku.
“Ya,
Yah.” Saut hamid tak peduli.
Sepanjang perjalanan Masamnya raut hamid pudar karna di
hibur oleh indahnya pemandangan. Gunung, laut semua telah dilewati. Juga
hamparan tanaman padi yang luas membentang. Laksana karpet hijau yang
menyejukkan mata. Waktu terus berlalu hamidpun tertidur di sepanjang sisa
perjalanan. Sampai di stasiun hari sudah malam. Tapi Kakek telah menunggu
dengan mobilnya. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil yang dibawa Kakek. Hamid
terbangun sejenak tetapi ia tidak dapat menahan kantuknya. Lalu hamid pun
tertidur kembali.
Pagi hari saat Hamid bangun, udara segar langsung menyapa.
Beda sekali dengan udara yang ia rasakan
sehari-hari. Yang begitu pengap dan kotor oleh debu dan asap knalpot.
“Wow,
Yah!, lihat ada gunung di depan rumah Kakek!” seru Hamid dari halaman. Dia
tampak sangat kegirangan. Maklum baru sekali ini Hamid berkunjung ke rumah kakek.
Biasanya kakeklah yang pergi ke tempat Hamid.
Ayahpun segera keluar menemui Hamid.Hamid terpukau melihat
anak-anak tetangga bermain. Mereka memanjat pohon karsem yang tumbuh di
halaman. Sontak Hamid mulai bergabung dengan anak-anak itu.
“Lihat
Yah, pohon ini memiliki buah seperti cherry.” katanya seraya menunjukkan buah
karsem yang kemerahan.
“Itu
pohon karsem.” Saut ayah seraya ikut bergabung untuk mencoba memetik salah satu
buah yang matang.
“Hamid
mau ikut ke sawah?” Kakek tiba-tiba sudah ada di belakang. Dibahunya terpanggul
sebuah cangkul.Tampaknya beliau bersiap-siap pergi ke sawah.
“Aku
ikut.” Kata Amin, anak tetangga.
“Aku
juga ikut.” Sambar Hamid bersemangat.
“Ayah ada dirumah ya
kalo nyariin”Kata ayah.
“Oke yah.” Saut Hamid.
Akhirnya kami bertiga berangkat ke sawah. Kami berjalan
menyusuri pematang. Sementara di kanan kiri kami padi-padi sudah mulai
menguning. Beberapa petani bahkan telah memanen padi mereka. Ada yang memeotong
padi. Ada yang merontokkan padi. Semua bekerja dengan semangat sekali.
“Kita
sudah sampai.” kata Kakek.
“Mana
padinya?” tanya Hamid.
“Padinya
telah selesai di panen, Mid. Sekarang Kakek sedang mempersiapkan tanah untuk
musim tanam berikutnya. Kalian main-mainlah dulu.” kata Kakek.
“Lihat,
ada belut.” pekik Amin yang langsung terjun ke sawah. Dengan sigap dia mengejar
belut yang tadi sempat menampakkan moncongnya ke permukaan tanah yang berair.
Belut malang itupun dapat ditangkap oleh Amin. Lalu akupun ikut-ikutan mencari
belut. Tapi yang terjadi, aku malahan mandi lumpur. Sementara tak satupun belut
dapat ku tangkap. Kakek tertawa-tawa melihat keadaan kami.
“Pergilah
kalian mandi ke sungai. Tapi hati-hati ya, batunya licin.” kata Kakek.
Kami berduapun menuju ke sungai di dekat sawah kakek.
Sungai itu tampak dangkal. Kami lalu mencari tempat yang agak dalam. Setelah
ketemu kami kemudian mandi di situ.
“Min
lihat, ada ikan berkaki.” teriak Hamid.
Amin
terkejut dan penasaran dengan temuan Hamid. Amin kemudian berlari menghampiri Hamid.
“Mana
sih ikan berkaki?” Tanya Amin penasaran.
“Itu!”
Hamid menunjuk segerombolan anak katak yang asyik berenang-renang.
“Ha…ha…ha.”
Amin tiba-tiba terbahak-bahak. “Itu bukan ikan berkaki,. Itu kecebong. Kecebong
itu anak katak. Bukan ikan.” kata Amin meledek.
Hamidpun
ikut tersenyum.
“Dasar
anak kota! Masa anak katak dibilang ikan.”
Maklum. Sebagai anak yang lahir dan tumbuh besar di kota, Hamid
tentu belum pernah melihat anak katak yang sesungguhnya. Proses perkembangan
katak mulai dari berudu menjadi katak, mungkin Hamid tahu. Tapi dia belum
pernah melihatnya secara langsung. Jadi dia mengira kalau anak katak itu ikan
berkaki. Karena memang bentuk berudu seperti ikan.
Liburan
kali ini benar-benar menyenangkan dan memberikan banyak pelajaran berharga bagi
Hamid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar