Sabtu, 14 April 2018

cerpen


KATANYA JADI KE SINGAPURA?

Hamid baru saja menerima rapor semesternya, minggu depan adalah liburan semester. Ayah berjanji mengajak keluarga berlibur di desa. Semua anggota keluarga merasa senang. Karena telah lama tidak mengunjungi sanak saudara di desa. Semua gembira, kecuali hamid terlihat muram.
“Mau apa sih liburan di desa. Enakan juga ke Singapura.” protes Hamid karena keinginannya untuk melihat patung singa kembali tertunda.

“Tabungan Ayah belum cukup nak, mungkin tahun depan baru terkumpul.” Saut Ayah lembut..
“Ada apa sih di desa? Paling-paling cuma ada kambing dan sapi.” Hamid masih kelihatan kecewa.

Hamid berkata seperti itu karena dia belum pernah pergi ke desa.tetapi anggota keluarga yang lain berbeda, mereka sangat rindu pada alam pedesaan yang indah dan damai. mereka rindu pada gunung dan rindu pada air terjun dekat rumah Kakek. Rindu pada hamparan padi yang menguning. Pada burung-burung pipit yang terbang menukik berebut tanaman padi. Rindu pohon jambu di belakang rumah, rindu pada sungai yang jernih mengalir, yang karena saking jernihnya kita bisa melihat batu-batu di dasarnya. Dan tentu saja meraka tak tahan dengan kerinduan pada udara pedesaan yang bersih dan sejuk. Sebentar lagi semua kerinduan itu akan dapat terobati.

Akhirnya tibalah juga hari yang dinanti-nanti tersebut. Hamid dan keluarga menaiki kereta antar provinsi menuju rumah kakek

“Kamu pasti bakal rindu dengan rumah kakek kalo sudah pulang dari sana.” Bisik ayah padaku.

“Ya, Yah.” Saut hamid tak peduli.

Sepanjang perjalanan Masamnya raut hamid pudar karna di hibur oleh indahnya pemandangan. Gunung, laut semua telah dilewati. Juga hamparan tanaman padi yang luas membentang. Laksana karpet hijau yang menyejukkan mata. Waktu terus berlalu hamidpun tertidur di sepanjang sisa perjalanan. Sampai di stasiun hari sudah malam. Tapi Kakek telah menunggu dengan mobilnya. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil yang dibawa Kakek. Hamid terbangun sejenak tetapi ia tidak dapat menahan kantuknya. Lalu hamid pun tertidur kembali.

Pagi hari saat Hamid bangun, udara segar langsung menyapa. Beda sekali dengan udara yang ia  rasakan sehari-hari. Yang begitu pengap dan kotor oleh debu dan asap knalpot.
“Wow, Yah!, lihat ada gunung di depan rumah Kakek!” seru Hamid dari halaman. Dia tampak sangat kegirangan. Maklum baru sekali ini Hamid berkunjung ke rumah kakek. Biasanya kakeklah yang pergi ke tempat Hamid.

Ayahpun segera keluar menemui Hamid.Hamid terpukau melihat anak-anak tetangga bermain. Mereka memanjat pohon karsem yang tumbuh di halaman. Sontak Hamid mulai bergabung dengan anak-anak itu.

“Lihat Yah, pohon ini memiliki buah seperti cherry.” katanya seraya menunjukkan buah karsem yang kemerahan.

“Itu pohon karsem.” Saut ayah seraya ikut bergabung untuk mencoba memetik salah satu buah yang matang.

“Hamid mau ikut ke sawah?” Kakek tiba-tiba sudah ada di belakang. Dibahunya terpanggul sebuah cangkul.Tampaknya beliau bersiap-siap pergi ke sawah.

“Aku ikut.” Kata Amin, anak tetangga.

“Aku juga ikut.” Sambar Hamid bersemangat.

“Ayah ada dirumah ya kalo nyariin”Kata ayah.

“Oke yah.” Saut Hamid.

Akhirnya kami bertiga berangkat ke sawah. Kami berjalan menyusuri pematang. Sementara di kanan kiri kami padi-padi sudah mulai menguning. Beberapa petani bahkan telah memanen padi mereka. Ada yang memeotong padi. Ada yang merontokkan padi. Semua bekerja dengan semangat sekali.

“Kita sudah sampai.” kata Kakek.

“Mana padinya?” tanya Hamid.

“Padinya telah selesai di panen, Mid. Sekarang Kakek sedang mempersiapkan tanah untuk musim tanam berikutnya. Kalian main-mainlah dulu.” kata Kakek.

“Lihat, ada belut.” pekik Amin yang langsung terjun ke sawah. Dengan sigap dia mengejar belut yang tadi sempat menampakkan moncongnya ke permukaan tanah yang berair. Belut malang itupun dapat ditangkap oleh Amin. Lalu akupun ikut-ikutan mencari belut. Tapi yang terjadi, aku malahan mandi lumpur. Sementara tak satupun belut dapat ku tangkap. Kakek tertawa-tawa melihat keadaan kami.


“Pergilah kalian mandi ke sungai. Tapi hati-hati ya, batunya licin.” kata Kakek.

Kami berduapun menuju ke sungai di dekat sawah kakek. Sungai itu tampak dangkal. Kami lalu mencari tempat yang agak dalam. Setelah ketemu kami kemudian mandi di situ.


“Min lihat, ada ikan berkaki.” teriak Hamid.

Amin terkejut dan penasaran dengan temuan Hamid. Amin kemudian berlari menghampiri Hamid.

“Mana sih ikan berkaki?” Tanya Amin penasaran.

“Itu!” Hamid menunjuk segerombolan anak katak yang asyik berenang-renang.

“Ha…ha…ha.” Amin tiba-tiba terbahak-bahak. “Itu bukan ikan berkaki,. Itu kecebong. Kecebong itu anak katak. Bukan ikan.” kata Amin meledek.

Hamidpun ikut tersenyum.

“Dasar anak kota! Masa anak katak dibilang ikan.”

Maklum. Sebagai anak yang lahir dan tumbuh besar di kota, Hamid tentu belum pernah melihat anak katak yang sesungguhnya. Proses perkembangan katak mulai dari berudu menjadi katak, mungkin Hamid tahu. Tapi dia belum pernah melihatnya secara langsung. Jadi dia mengira kalau anak katak itu ikan berkaki. Karena memang bentuk berudu seperti ikan.

Liburan kali ini benar-benar menyenangkan dan memberikan banyak pelajaran berharga bagi Hamid.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar